Telp : +62 370 621364

MISI SUCI GURU

Oleh Rusni Bil Makruf

“Jika engkau ingin kaya maka jadilah pengusaha, jika engkau ingin terkenal maka jadilah seniman tapi jika engkau menginginkan kemuliaan maka jadilah seorang guru”.

Menyambut hari guru ini, sekaligus kado bagi semua guru di dunia, berbahagialah para guru, engkau adalah manusia pilihan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Tulisan ini lahir dari kejadian nyata, bak sinetron FTV, seorang guru disebuah Lembaga Pendidikan Islam (baca: Pesantren) yang berlatar belakang keluarga konglomerat, terpandang dan disegani, jatuh cinta terhadap profesi menjadi guru hanya gara-gara “Ketika disalami santrinya, tangannya dicium 3 kali, punggung tangannya, telapak tangannya lalu tangannya ditaruh diatas kepala santrinya” baginya ini Amazing (menakjubkan), selama ini ia tidak pernah diperlakukan dengan semulia ini, ia dulunya adalah seorang pemabuk berat dan menggemari hal-hal yang tidak baik, pada akhirnya jalan takdir menghampirinya, ia dipaksa menjadi seorang guru oleh ayahnya tercinta, awalnya ia merasa enggan namun ia terima dengan berat hati. Hal yang membuatnya merinding, selama ini ia melakukan banyak sekali maksiat, namun sehari setelah menjadi guru, ia dimuliakn dengan sangat baik oleh santrinya, ia menagis tersedu-sedu menyaksikan santrinya yang menghormatinya dengan begitu sangat luar biasa, sejak saat itu sang guru baru ini bertekad menjadi lebih baik dan meninggalkan semua bentuk maksiat yang selama ini telah banyak dilakukan dan tentu saja ia akhirnya setia menjadi guru.

Sepenggal kisah nyata ini semoga bisa memotivasi semua guru agar tetap optimis serta bangga dan bersyukur dengan profesi guru yang telah dijalani, mungkin harta yang didapat tidaklah sebanyak para pengusaha namun percayalah guru adalah berlian yang tak ternilai harganya bagi semua manusia, bahkan Allah telah menjanjikan akan meninggikan derajat bagi orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat (Q.S al-Mujadalah ayat 11).

Dengan tingginya penghargaan yang diberikan Islam kepada para guru maka dalam ajaran Islam term tentang guru tidak kurang disebutkan sebanyak 6 varian kata yang digunakan, Pertama kata Ustadz yang bermakna orang yang berkomitmen terhadap profesionalisme keguruannya dan melekat pada dirinya sikap dedikatif keguruan, seorang guru harus berkomitmen terhadap mutu, proses yang dijalani dan hasil kerja serta bersikap istikomah terhadap kebaikan-kebaikan yang diajarka “continous improvement”. Kedua kata Mu’allim yang bermakna orang yang menguasai ilmu dan mampu mengembangkannya serta menjelaskan fungsinya dalam kehidupan, menjelaskan dimensi teoritis dan praktisnya, atau sekaligus melakukan transfer ilmu/pengetahuan, internalisasi, serta amaliah.

Ketiga kata Murobbi yang bermakna orang yang mendidik dan menyiapkan peserta didik agar mampu berkreasi, serta mampu mengatur dan memelihara hasil kreasinya untuk tidak menimbulkan malapetaka bagi dirinya, masyarakat dan alam sekitarnya.

Keempat kata Mursyid bermakna orang yang mampu menjadi model atau sentral identifikasi diri atau menjadi pusat anutan, teladan dan konsultan bagi peserta didiknya. Kelima kata Mudarris yang bermakna sebagai orang yang memiliki kepekaan intelektual dan informasi serta memperbaharui pengetahuan dan keahliannya serta berkelanjutan dan berusaha mencerdaskan peserta didiknya, memberantas kebodohan mereka, serta melatih keterampilan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya. Keenam kata Muaddib yang bermakna orang yang mampu menyiapkan peserta didik untuk bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang berkualitas di masa depan.

Selain varian kata dari Bahasa Arab tersebut ada beberapa tambahan lagi dengan tradisi Islam Indonesia yang memberikan istilah lain bagi guru seperti Kiyai di pulau Jawa dan Madura, Ajengan di Jawa Barat, Tuan Guru di Lombok dan Teuku di Aceh. Semua kata diatas merupakan kata aktif dan bukanlah kata pasif, oleh sebab itu, menjadi seorang guru menandakan seseorang tersebut merupakan orang yang selalu dinamis dalam memberikan petuah-petuah keilmuan kepada para peserta didiknya. Penggunaan kata untuk menyebutkan guru memberikan makna yang mendalam, bahwa guru tidak boleh berpangku tangan melihat para peserta didiknya yang masih tertinggal, para guru haruslah tetap berkembang, baik dari sisi keilmuannya, cara penyampaian ilmunya maupun adab dan akhlaknya. Lalu jangan sangka, ketika sudah menjadi guru maka para guru kemudian bersantai-santai hanya mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya dahulu, guru yang mendidik muridnya agar giat belajar maka seharusnya guru juga harus tetap belajar “Guru yang tidak mau belajar maka perintahkanlah ia berhenti mengajar”. Hal ini berkesesuaian dengan prinsip Pendidikan dalam Islam yang menyatakan betapa kompleksnya tugas guru demi mengemban tugas suci nan mulia yang ditinggalkan oleh nabi Muhammad SAW yakni misi dakwah dan misi kenabian harus berlanjut dengan estafet yang harus diteruskan oleh para guru. Sehingga pesan kenabian juga sebenarnya berkesesuaian dengan tugas guru dan dosen pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 pada Pasal 1 ayat 1 Tentang Guru dan Dosen “Mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik…”.

Pada akhirnya, guru merupakan profesi yang mulia namun mengemban profesi guru haruslah terus berkembang seiring perkembangan zaman, jika ingin melihat negri kita maju maka guru harus tetap berbenah diri, tidak anti terhadap perubahan zaman dan tentu saja harus mampu mengembangkan potensi peserta didik yang terserak menjadi bagian yang terkumpul dan bermanfaat bagi semua. Selamat Hari Guru, Jasamu Akan Abadi Dalam Jariyah. ( HUMAS MANSA MATARAM)

share:

Tinggalkan Komentar Anda